Kompas

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Banyak obat kedaluwarsa masih beredar di pasar. Di antaranya berasal dari Cina, yang di tempat asalnya sudah ditarik dari peredaran. Lalu, apa bahayanya pemanis buatan pada makanan anak-anak?

Pekan lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Palembang menemukan sekitar 19 obat Cina yang mengandung obat-obatan medis. Di antaranya dicampur dengan kortikosteroid (hormon), fenilbutazon (obat encok) yang tergolong obat daftar G (perlu resep dokter), selain beberapa jenis obat berbahaya yang tidak boleh dikonsumsi untuk waktu lama lainnya.
Sebelumnya, setelah formalin, mencuat lagi berita pemanis buatan. Memang tak semuanya berbahaya, tetapi tetap tidak boleh dikonsumsi dengan dosis berlebihan, selain untuk waktu lama. Pemanis buatan di negara mana pun dilarang dicampurkan untuk makanan anak.

Bagaimana di Indonesia?

Ya, ini memang cerita lama. Sudah sejak dulu pasar kita dibanjiri obat-obatan, baik obat minum impor maupun obat luar (kosmetik), yang kebanyakan tidak aman untuk dikonsumsi atau dipakai. Dulu ada obat encok buatan Korea dan Cina, yang dijual bebas, ternyata isinya obat medis yang sudah tidak dipakai lagi.

Bikin Tulang Keropos

Menyusul jenis-jenis obat lainnya dari Cina, yang belakangan sudah ditarik peredarannya di negara asalnya. Mahuang dan Ephedra, di antaranya. Berita terakhir, sejumlah obat tradisional Jepang juga ditarik dari pasar lantaran dinilal tidak aman.

Di Indonesia, kita membiarkan beredarnya jamu “nakal” berisi obat yang harus ditebus dengan resep dokter, dikonsumsi oleh rakyat jelata sebagai jamu kuat, jamu pegal, jamu sehat, dan sejenis itu. Jelas-jelas obat tersebut berbahaya kalau dikonsumsi untuk waktu lama tanpa pengawasan dokter.

Sebut saja kortikosteroid (prednison, oradexon) yang bikin badan jadi enak. Ini tergolong hormon yang tidak boleh dikonsumsi oleh pengidap diabetes, darah tinggi, penyakit jantung, TBC, dan bisa bikin tulang jadi keropos, selain kulit kasar, muka tembam (moon face).
Dulu diracik sebagai obat penggemuk badan oleh penjual obat (“gemuk air”). Cara salah membuat orang gemuk. Masih banyak jamu rumahan yang mencampurkan bahan (“obat dewa”) ini karena bikin badan jadi enteng.

Obat golongan kortikosteroid memang diindikasikan dikonsumsi untuk waktu lama bagi kasus asma dan alergi, lupus, penyakit ginjal dan penyakit aotoimun, karena memang diperlukan, dengan kesiapan menanggung efek sampingnya. Atau pada kasus-kasus tertentu, itu pun hanya untuk pemakaian kurang dari seminggu. Jika dipakai lebih dari seminggu, harus diturunkan dosisnya secara berangsur-angsur (tapering-off).

Namun, tanpa sadar peminum jamu mengonsumsinya berbulan-bulan, atau bahkan mungkin sudah bertahun-tahun. Mereka tak sadar tekanan darahnya meninggi, gula darahnya abnormal, mukanya tembam, dan kalau diperiksa, tulangnya sudah keropos.
Belum obat encok, yang efek sampingnya merusak ginjal dan hati. Belum obat pereda nyeri (pegal), belum pula obat pencahar (laxan, laksatif) dan obat penuras kencing (diuretik) yang dicampur dalam jamu atau obat penurun berat badan. Orang jadi mencret atau kencing terus, sehingga berat badannya turun. Bahayanya, keseimbangan elektrolit tubuhnya terganggu dan flora ususnya terkuras.

Cara salah menguruskan badan, sengaja diare dan kencing terus, selain tidak tepat sasaran (berat badan turun bukan oleh berkurangnya lemak atau gajih tubuh, melainkan lantaran tinja dan air tubuh terbuang).

Sama halnya dengan suntikan amfetamine di salon-salon kecantikan. Betul bikin nafsu makan kendur, tetapi juga bikin jantung terganggu.
Obat pengurus badan golongan penthermin dan phenfluramine (penphen) sering dicampurkan dalam obat kurus buatan Cina. Padahal, dua golongan obat ini sudah tidak dipakai lagi lantaran efek sampingnya merusak katup jantung (katup jantung jadi menggelambir). Sehingga kerja jantung terganggu.

Faktor keamanan

Dokter memang tidak mempelajari obat tradisional (fitofarmaka) secara mendalam, tetapi dapat memakai logika medis untuk menalar bagaimana sejatinya obat berkhasiat bekerja. Tidak semuanya yang ada di pasaran bisa masuk nalar medis.

Bahwa bawang putih mengandung zat berkhasiat, betul. Begitu juga buah pace, buah merah, dan apa saja yang sudah ditemukan kandungan khasiatnya. Namun, bahwa bahan berkhasiatnya mujarab untuk segala macam penyakit, nanti dulu.
Tidak ada obat yang menurut akal sehat medis bisa menyembuhkan seribu satu macam penyakit. Semakin gencar suatu bahan berkhasiat mengaku bisa menyembuhkan segala macam penyakit, semakin harus dicurigai kebohongannya.

Buah merah mengandung antioksidan tinggi. Namun antioksidan bukan untuk menyembuhkan penyakit apa saja. Bahwa orang sekarang banyak yang terkena kanker, jantung koroner, atau penyakit degeneratif yang prematur, mungkin benar sebab radikal bebas dalam kehidupan modern sudah sangat membanjir.

Tubuh sudah kuyup oleh radikal bebas dari udara yang dihirup, air yang diminum, dan bahan berbahaya dalam menu harian, termasuk dari obat-obatan. Peran antioksidan untuk mencegah ancaman radikal bebas, bukan untuk mengobati segala penyakit yang diakibatkan kebanjiran radikal bebas.

Bahwa ada yang mengaku sembuh setelah diberi bahan berkhasiat tertentu, harus diuji klinis, berapa besar kebermaknaannya (signifikasi) bahwa betul itu berkat bahan berkhasiat. Menyederhanakan langsung suatu bahan berkhasiat sudah menyembuhkan, sering tidak didasarkan pada pertimbangan ilmiah, melainkan empiris belaka. Yang sembuh satu, ceritanya seolah semua pasien bisa disembuhkan.

Selain dari itu, bukan sekadar berkhasiat saja yang perlu dipikirkan kalangan medis. Tak cukup berkhasiat saja kalau setelah diuji klinis ternyata tidak aman dikonsumsi.
Efikasi bahan berkhasiat saja tak cukup kalau ternyata membahayakan tubuh. Apakah beracun, berapa besar dosis letal, dan apakah efek sampingnya masih bisa ditoleransi.
Obat tradisional, jamu, tidak semuanya melalui protokoler uji sebagaimana yang ditempuh obat medis sebelum dilempar ke pasar. Uji toksisitas diperlukan, agar suatu bahan berkhasiat, selain terbukti benar mujarab, juga aman.

Kosmetik impor

Heboh kosmetik impor bukannya tidak pernah di Indonesia. Pemutih kulit, yang disinyalir masih beredar di pasaran sampai sekarang, bukannya tak ada yang tidak aman untuk dipakai. Bukan saja bahannya yang dilarang (golongan merkuri Hg), yang memakai bahan aman pun (retinoic acid), dosisnya melebihi yang dianjurkan. Dalam dosis berlebihan tentu membahayakan kulit.

Masyarakat cenderung mempertimbangkan khasiat semata. Banyak bahan buatan maupun alami yang secara khasiat tidak diragukan, tetapi belum tentu selalu aman. Aman untuk jangka pendek, aman pula bila dipakai untuk jangka panjang.
Suntikan botoks (racun botulinum) untuk menghapuskan kerutan kulit muka, sekarang sudah dijajakan di kaki lima, dan dikerjakan oleh orang yang belum tentu profesional. Dulu, salon kecantikan juga melakukan layanan bedah kosmetik termasuk penyuntikan dan ternyata, korbannya bukan cuma satu-dua.

Pemanis Dalam Jajanan Anak

Tidak semua pemanis buatan aman. Golongan aspartam tidak boleh ada dalam makanan anak. Disinyalir jenis pemanis buatan banyak beredar dalam jenis jajanan anak. Selain itu beberapa jenis pemanis buatan lainnya juga belum tentu aman bagi orang dewasa. Seberapa bisa sebaiknya tidak memilih pemanis buatan. Gula pasir sendiri tidak menyehatkan bagi tubuh. Selain mengganggu kesehatan usus, gula olahan (refined diet) tak bagus bagi metabolisme tubuh. Pilihan pun jatuh ke gula aren gula merah (jawa) atau gula bebuahan.

Beberapa jenis pemanis buatan dianggap sebagai racun (silent killer) dan di negara maju sudah lama ditinggalkan pemakaiannya untuk pasar industri. Konon ada jenis pemanis buatan yang menimbulkan wabah dua penyakit besar di Amerika Utara yakni penyakit multiple sclerosis (penyakit saraf tulang belakang) dan penyakit lupus, selain penyakit otak.
Kita perlu mengamati minuman, sirop, kecap, saus, dan pemanis dalam kopi serta teh apakah tergolong aman. Kalau bisa tidak memilih pemanis apa pun, karena jauh lebih menyehatkan.
Cukuplah memandang Nona atau Sinyo manis senantiasa sudah bisa bikin kita merasa sentosa. ****