pemanis alternatif pengganti sukrosa
Liquid Palm Sugar

Pemanis Alternatif Pengganti Sukrosa – Mengenal Xylitol

SELAIN mengandung banyak polifenol antioksidan, berbagai macam buah berakhiran “berry”, terutama raspberry, mengandung salah satu pemanis alternatif pengganti sukrosa yang cukup potensial yaitu xylitol. Xylitol adalah gula alkohol dengan rumus umum C5H12O5 sering disebut juga sebagai gula kayu atau birch sugar pengganti gula tebu. Satu sendok teh xylitol mengandung 9,6 kalori, lebih rendah 36 persen dibanding gula biasa yang mencapai 15 kalori. Di samping itu, xylitol tidak memerlukan insulin untuk mengatur metabolismenya sehingga menguntungkan bagi para penderita diabetes.

Xylitol terdapat secara umum pada serat berbagai macam buah-buahan dan sayuran seperti raspberry, strawberry, blueberry, blackberry, plum, jagung, gandum, dan birch. Xylitol 1,2 kali lebih manis dari sukrosa, tetapi hal ini masih tergantung pada pH larutan. Yang pasti lebih manis dari sorbitol dan manitol, dan memiliki nilai kalori yang rendah.

Pemanis alternatif pengganti suksrosa  ini pertama kali diesktrak dari tumbuhan birch di Finlandia pada abad 19 dan populer di Eropa sebagai pemanis yang aman bagi penderita diabetes. Pada akhir abad ke-20, xylitol dalam bentuk granula untuk pertama kalinya diproduksi secara massal di Amerika Serikat dengan merek Ultimate Sweetener dengan mengekstrak tanaman bit di California.

Saat ini, pembuatan xylitol menggunakan jagung sebagai bahan bakunya, yang sebagian besar diimpor dari Cina. Dalam produksi skala besar, dilakukan dengan proses kimiawi dan bioteknologi. Proses kimiawi dilakukan dengan hidrogenasi xylose menggunakan larutan asam. Sedangkan proses bioteknologi dilakukan menggunakan proses enzimatik dengan bantuan mikroba jenis yeast seperti Candida dan Saccharomyces.

Pemanis alternatif pengganti sukrosa ini ditemukan pada :

Ingin mencoba xylitol? Temukan dalam permen karet. Xylitol digunakan secara luas di negara asalnya Finlandia. Hampir semua produk permen karet di Finlandia, sama seperti halnya di Eropa, menggunakan pemanis ini. Xylitol disebut sebagai toothfriendly atau boleh kita bilang ramah terhadap kesehatan gigi. Hasil penelitian terkini bahkan membuktikan bahwa selain rasa yang enak, juga aman bagi kesehatan gigi karena sifatnya tidak merusak gigi.

Penggunaan xylitol secara aktif mampu mempercepat proses pembentukan kembali mineral gigi (remineralisasi). Pemanis ini memicu produksi air liur yang mengandung banyak mineral penting bagi email gigi sehingga akan memperbaiki kondisi lapisan luar gigi tersebut. Selain itu, juga membantu menurunkan pembentukan karies dan plak pada gigi sehingga banyak digunakan untuk campuran pasta gigi.

Selain xylitol, pemanis alternatif pengganti suksosa lainnya yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi, di antaranya pemanis dari pati-patian (starch sweetener). Starch sweetener adalah pemanis nontebu seperti halnya gula aren. Dalam skala industri kita mengenal high fructose syrup (HFS), fruktosa, glukosa, dan insulin. HFS diperoleh dari pati jagung, gandum, beras, kentang, dan umbi-umbian melalui proses ekstraksi enzimatik dan penggunaan mikroba.

pemanis alternatif pengganti sukrosa
Gula aren sebagai salah satu pemanis alternatif pengganti sukrosa

Selain itu, dikenal juga sukralosa, palatinosa, dan palatinit. Sukralosa dihasilkan melalui proses klorinasi sukrosa. Pemanis alternatif pengganti sukrosa  ini mempunyai tingkat kemanisan yang sangat tinggi terhadap sukrosa yaitu 550-750 kali, memiliki kalori yang sangat rendah, yaitu sekitar 2 kalori per satu sendok teh, sedangkan palatinosa merupakan turunan sukrosa sebagai hasil proses enzimatis.

Palatinosa mempunyai kemanisan lebih rendah yaitu 0,42 kalinya sukrosa, tetapi mempunyai keuntungan yaitu tidak merusak gigi dan kandungan kalorinya sekitar 4 kkal/gram. Dan palatinit merupakan campuran dari 6-O-(x-D-glukopiranosil)-D-manitol dan 6-O-(x-D-glukopiranosil)-D-sorbitol dan diproduksi melalui tiga tahap yaitu hidrogenasi palatinosa, pemurnian, dan rekristalisasi. ***

Dadang Gusyana, S.Si.Alumnus Biologi, Universitas Padjadjaran, Bandung.Information Officers, Indonesian Biotechnology Information Centre (Indo BIC).
Irna Safira Inayah, S.SiAlumnus Kimia, Universitas Padjadjaran, Bandung.Staf Laboratorium Kimia, Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STFI), Bandung. ***

SUMBER :www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/05/cakrawala/lainnya05.htm