Source: Tabloid Agro Indonesia, September 2006

Segala sesuatu yang serba organik tengah digandrungi masyarakat. Entah itu sayuran atau buah-buahan. Fenomena tadi tentu menjadi peluang bagi pebisnis. Seperti yang dilakoni Indrawanto dengan merintis usaha gula semut aren.

Kegiatan usaha itu dimulai sejak Desember 2005. Ketika itu, Indrawanto yang pernah berkarier selama 20 tahun di perusahaan swasta ternama, mendirikan CV Diva Maju Bersama. UKM yang memproduksi Diva’s Palm Sugars, gula semut aren ( gula aren bubuk) dengan modal awalnya Rp 200 juta.

“Sudan saatnya saya berdikari,” ujamya mantap pada Agro Indonesia, mengenang tekadnya untuk berwirausaha.

Dia terjun ke bisnis aren karena bahan baku-nya mudah didapat. Apalagi Indonesia memiliki aren yang melimpah. Itu sebabnya, urusan bahan baku pihaknya tidak kesulitan. Dalam sebulan dipasok rata-rata 20-30 ton dari petani daerah sekitar Jawa Barat dan Tengah.

Sekadar informasi, aren tumbuh di sepanjang daratan Asia Selatan, Papua Nugini dan utara Australia. Tanaman yang tingginya antara 10-30 meter ini memiliki 20 famili. Di Indonesia sendiri dikenal tiga jenis yakni Aren (Arenga Pinnata), Aren Gelora (Arenga Undulatifiola) dan Aren Sagu (Arenga Micracarpa).

Selain itu, aren termasuk pohon serbaguna. Mirip kelapa karena hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Sebut saja mulai dari tandan bunga, buah, daun, batang, akar sampai ijuknya, Nah, yang dijadikan bahan baku gula semut adalah tandan bunga jantan yang disadap niranya. Sedangkan tandan bunga betina menghasilkan kotang-kaling.

Alami

Dapur usahanya yang berada di Serpong Tangerang dan mengkaryakan 4 orang itu mengeluarkan dua macam gula aren. Ada yang cetakan dan ada yang bubuk. Pada prinsipnya, kata Indrawanto, yang cetakan atau bubuk sama saja. Bedanya, yang dicetak memiliki kelemahan, jika kurang baik penyimpanannya paling banter tahan sebulan
karena bisa bulukan. Yang bubuk tahan dua tahun, asal disimpan di tempat yang kering.

Yang pasti, Diva’s Palm Sugar memenuhi kebutuhan masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan lantaran minus campuran bahan kimia apapun. “Niranya disadap dari tanaman aren yang tumbuh alami di lereng-lereng bukit dan hutan yang tentunya tanpa pupuk atau pestisida buatan manusia. Jadi produk ini pantas disebut gula organik,” paparnya.

Keunggulan lainnya, tambah Indrawanto, Diva’s Palm Sugar produk sehat dan aman untuk dikdnsumsi sehari-hari ketimbang gula pasir misalnya. “Kadar manisnya 80% lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir,” katanya.

Itu sebabnya, menurut pria kelahiran Lampung 1961 ini, gula semut aren buatannya cocok untuk pemanis segala rupa minuman misalnya teh, kopi atau es kelapa muda. Juga campuran yang pas untuk roti, wafer, biskuit dan makanan bayi. Bahkan memperkuat khasiat dan cita rasa seduhan jahe, kunyit asam, sari temulawak dan mengkudu.

Namun meski demikian, yang namanya usaha tentu ada tantangannya. “Semula gula semut Aren dianggap eksklusif karena harganya mahal. Tapi seiring dengan naiknya gula pasir tentu anggapan tadi tidak berlaku lagi. Jadi ke depan, gula ini bukan hanya dikonsumsi masyarakat menengah atas saja tapi menjangkau semua lapisan,”ujarnyaoptimis.

Memang seal harga, sedikit lebih mahal dibandingkan harga gula pasir biasa yang berkisar Rp6.000 an/kg. Produk gula semut yang cetakan dibandrol Rp7.500-Rp9.000 perkilo. Tergantung kualitas, standar atau super. Yang bubuk dihargai Rp8.500-Rp 11.000 perkilo. Tergantungkadar air.

Walaupun mahal, namun produknya tetap laris manis, Dalam sebulan kapasitas produksinya yang mencapai 30 ton itu sekitar separuhnya mampu diserap berbagai industri makanan. Pelanggannya ada 6 pabrik yang tersebar di Tangerang dan Jakarta. Keuntungannya? Ayah dua anak ini merahasiakannya. “Bisa satu atau dua digit,” katanya enggan. Yang pasti, bisnis gula semut amat manis. $ Fenny

Salam,

— Evi