Monday, March 30, 2009

Doktor Anau dari Pagaruyung

Dr. Ir. Puti Reno Raudhatul Jannah Thaib, M.Si
Doktor Anau dari Pagaruyung


Enau atau anau ( aren --Evi ) membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak. Sementara petani, untuk menambah jumlah tanaman enau, masih menggunakan cara alami: menanam bijinya. Padahal, biji enau memiliki masa tidur (dorman) sampai setahun.

Hal itulah yang membuat Raudha Thaib sebagai ilmuwan penasaram, kemudian termotivasi untuk menemukan cara lain, yakni, bagaimana mengurangi masa tidur dan jumlah tanaman baru yang dihasilkan tak hanya satu batang.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas ini pun tersenyum. “Alhamdulillah, untuk langkah awal saya berhasil dan dari situ pulalah saya bangga menyandang gelar doktor dengan bidang telitian dan temuan yang terbilang langka,” kata penulis buku Seri Alam Minangkabau “Nik Reno jo Cucunyo” berbinar.

Menurutnya, tanaman enau bisa dikembangbiakan secara buatan, baik rekayasa genetika atau kultur jaringan. Hal itu, karena Upik, menemukan cara untuk menghilangkan senyawa fenolik yang membuat biji enau berada dalam masa tidur yang lama. Upik menerangkan dengan jabaran ilmiah, hal itu dalam disertasi doktoral berjudul Regenerasi In Vitro Tanaman Enau (Arenge pinnata Merr.) melalui Embriogenesisi Somatik. Dengan ditemukan teknik tersebut, pengembangbiakan enau bisa dilakukan lebih cepat lagi.

Temuan Upik menghasilkan, masa dorman enau bisa dikurangi sampai 141,07 hari. Sementara itu, jumlah tanaman baru yang dihasilkan, tak lagi satu batang sebagaimana selama ini pola alami. Tetapi bisa mencapai 6-21 batang. “Temuan saya ini sebuah langkah awal, dan dalam waktu dekat belum bisa diaplikasikan oleh petani,” kata Upik, yang meraih doktor di usia 60 tahun ini menambahkan, kerja ilmuwan sesungguhnya mencari formula yang memudahkan petani/orang lain memanfaatkannya.

Upik mengenal enau- dan tentu paham akhirnya—dari lingkungan masa kecilnya di Istana Pagaruyung Batusangkar. Yang menarik bagi Upik, baik dari ilmu pertanian, sosial dan budaya, hampir seluruh bagian dari enau, bisa bermanfaat bagi masyarakat. Ijuknya untuk atap rumah, niranya untuk gula aren atau cemilan gula-gula, daunnya yang telah dibuang lapisan lilinnya untuk pembungkus rokok.

“Banyak sekali manfaat anau ini,” tukas upik, dan, ia menambahkan, ijuknya digunakan sebagai atap, seperti rumah gadang atau Istana Pagaruyung yang terbakar Februari 2007, berfungsi untuk menahan hawa panas dari luar. Efeknya, hawa sejuk dari dalam yang ditawarkan ijuk tersebut.

Mantan atlit PON V dari Sumbar ini tertarik dengan enau, karena menurut pencermatannya, enau bagi masyarakat Minang, tidak semata tanaman yang memberi pemasukan secara ekonomi. Tetapi, enau juga merupakan tumbuhan konservasi. Tumbuhan seperti ini tidak boleh ditebang sembarangan. Hukum adat di Minangkabau, ditegaskan Upik, melindungi tumbuhan yang ada di hutan.

“Bicara soal kenservasi, sesungguhnya dibutuhkan kearifan lokal. Ternyata saat ini, kearifan lokal itu pula yang mulai runtuh,” kata Upik risau. Keturanan ke-13 Raja Pagaruyung ini menjelaskan, kearifan lokal memiliki kekuatan sosial dan kultural semestinya, termasuk melindungi hutan. Sayang, banyak yang mengabaikan nilai kearifan lokal, hutan ditebang liar oleh mereka dengan kekuatan uang, hingga bencana datang pun kita tak arif apa penyebabnya.

Dalam enau, kata salah seorang dewan pakar Gebu Minang ini, tersirat nilai pelestarian lingkungan yang penting dianut masyarakat. Untuk tanaman enau ini misalnya, bisa hidup pada kemiringan tanah sampai 20 derajat, serta sebaran akar serabutnya hingga 10 meter dengan kedalaman tiga meter.

Upik berharap, penelitiannya ini bisa memberi sumbangan positif bagi perkembangan ilmu dan teknologi budidaya tanaman enau. Setidaknya merupakan informasi dan acuan dalam melakukan perbanyakan dan perbaikan tanaman enau melalui embriogenesis somatik dapat menghasilkan bibit enau berkualitas tinggi, mempunyai kemampuan adaptasi dengan lingkungan, dalam jumlah yang banyak dan waktu yang relatif singkat. (Yusrizal KW)

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Friday, March 27, 2009

AGAR NASIB PETANI AREN TETAP MANIS

AGAR NASIB PETANI AREN TETAP MANIS

Oleh : Dian Kusumanto

Judul diatas terinspirasi dari tulisan dinding FB dari Ibu Evi Indrawanto sang Juragan Gula Aren dari Diva Maju Bersama Serpong. Beliau bermitra dengan banyak petani Aren yang ada di daerah sekitar beliau tinggal. Beliau sangat senang sekaligus mengkhawatirkan mana kala Revolusi Aren nanti menjadi semarak seperti Tebu dan Sawit, nasib petaninya tidak seperti rasa gulanya yang manis. Sepertinya Bu Evi ini adalah seorang Pengusaha yang sangat Nasionalis, bukan penganut Kapitalisme Laissez Faire, Kapitalisme yang membiarkan petani berhadapan dengan monster-monster Kapitalis yang siap menerkamnya.

Kata Bu Evi begini, “ ……………..Kalau menyangkut revolusi aren, alhamdulillah bila Pak Prabowo mengujudkannya. Mudah2an ini bukan janji hanya selama kampanye. Tapi akhirnya perasaan saya jadi ambigu, Pak. Antara senang dan kuatir. Senang, jika aren sdh merebak saya tidak akan kekurangan bahan baku lagi. Kuatir, kalau suatu hari nasib petani aren akan seperti nasib petani tebu. Gula mereka manis tapi nasib mereka tidak seperti itu. Tidak tahu lah Pak, kita lihat saja apa yg akan terjadi. Sementara untuk usaha sendiri, dijejalin begitu banyak informasi, memiliki teman-teman yg perduli, saya tetap yakin selalu sukses..............”.
Bagaimanapun petani adalah bagian masyarakat kita yang sangat lemah dan rentan terhadap perubahan-perubahan kebijakan, perubahan kondisi ekonomi, perubahan situasi politik. Demikian juga petani Aren, yang selama ini juga belum diperhatikan, belum diberdayakan. Namun perlu kita kembali ke belakang untuk melihat bagaimana sebenarnya yang terjadi pada petani tebu kita itu, salahnya dimana, sehingga petaninya bernasib tidak seperti rasa gulanya yang manis. Setelah itu kita melihat ke depan melalui mata kepala petani Aren kita yang akan datang.

Kebanyakan petani tebu memang banyak kelemahannya sehingga nasibnya belum manis, mungkin antara lain karena hal-hal berikut ini :
1. Penguasaan lahan rata-rata petani yang masih sangat terbatas dan minim. Rata-rata kepemilikan lahan di Jawa hanya sekitar 0,2 - 0,4 hektar.
2. Produktifitas Tebu yang semakin menurun, sekarang hanya sekitar 7-8 ton Gula Hablur per hektar per musim.
3. Harga Gula tingkat petani tidak aman, tidak ada proteksi dan masih sering menjadi korban keadaan ekonomi Nasioal, Regional dan Global.
4. Industri Gula Tebu kita yang sangat tidak efisien, baik pada penggunaan teknologi dan peralatan yang sudah usang, serta pola manajemen industri tebu yang tidak efisien.
5. Kebijakan Pemerintah yan belum sepenuhnya berpihak kepada Petani.
6. Posisi tawar dari petani tebu yang masih lemah dan sering dijadikan korban.
7. dll.
Saya rasa untuk pengembangan Revolusi Aren kita bisa bercermin kepada 6 hal diatas, agar nasib petani Aren kita tidak seperti nasib petani Tebu. Namun kita semua akan sangat yakin bila petani Aren kita akan bisa hidup lebih baik dan tidak seperti nasib petani tebu. Beberapa hal yang membuat kita sangat optimis adalah sebagai berikut :

1. Produktifitas dari Aren sendiri secara indogen yang sangat bagus. Tinggal bagaimana kita bisa memilihkan jenis bibit yang memang berpotensi produksi tinggi. Dengan pohon yang tidak dipelihara dan dengan jumlah pohon yang sedikit saja petani Aren sudah mendapatkan hasil yang lumayan, apalagi jika dilakukan pemeliharaan yang baik dan dengan jumlah pohon yang dipanen lebih banyak, tentu hasilnya akan sangat luar biasa. Tidaklah terlalu berlebihan seandainya setiap pohon menghasilkan nira 10 liter per hari, dan tidak berlebihan seandainya dari 200 pohon dalam setiap hektar yang rutin menghasilkan nira adalah 50% atau 100 pohon, jadi setiap hari dari setiap hektar kebun aren akan menghasilkan 1.000 liter nira.

Kalau pohon dirawat dengan baik dan standar tentu tidak sulit untuk meningkatkan hasil nira menjadi 20 liter/hari/hektar, dan meningkatkan pohon yang bisa dipanen sekitar 80 % atau 160 pohon setiap hari, maka hasilnya bisa meningkat menjadi 3.200 liter/hari/hektar.

2. Pemilikan jumlah pohon dan luas lahan yang cukup. Lahan untuk Aren adalah bukan lahan sawah, tetapi kita pilihkan lahan-lahan yang miring, lahan-lahan yang kering, lahan-lahan bekas hutan yang tidak produktif. Bisa juga kita manfaatkan lahan pekarangan atau tegalan yang selama ini belum produktif ataupun bisa juga bertumpangsari dengan tanaman tahunan lainnya.

3. Petani Aren bisa saja tidak tergantung dengan Pabrik Besar Gula, tidak seperti petani Tebu yang pasti sangat tergantung dengan Pabrik Gula. Maka petani Aen sebenarnya masih sangat bebas menentukan masuk atau tidak masuk dalam industri Gula Besar, namun memlih mengolah sendiri niranya menjadi Gula atau Alkohol atau yang lainnya. Artinya berganing position atau posisi tawar petani Aren bisa lebih baik dari pada petani Tebu kita.

4. Belajar dari para Perajin Industri Maple Syrup di Canada dan Amerika, yang mana mereka, masing-masing perajin sudah mempunyai merek dan patent dari produknya secara sendiri-sendiri. Petani dan sekaligus perajin bisa langsung mengakses pasar Super Market ataupun langsung bertransaksi dengan para Importir di negara lain melalui Asosiasi sesama produsen diantara mereka. Jadi bisa dikatakan mereka dalam posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan harga dan ketentuan dalam perdagangan lainnya.

5. Teknologi yang diterapkan untuk industri produk-produk Aren haruslah yang efisien dan berorientasi pada industri kecil-kecil saja. Kalau indusri besar biar mereka berfikir sendiri. Akan semakin baik bila yang menghidupkan bisnis Aren ini semakin banyak tidak dimonopoli saja oleh perusahaan-perusahaan yang besar apalagi oleh kapitalis yang tidak nasionalis. Kalau bisa jangan sampai ini terjadi di Industri Aren kita yang akan datang.

6. Oleh karena itu Penelitian dan Pengembangan Aren harus dikelola dengan baik, bisa saja Litbang ini dikelola dan dibiayai dari Pemerintah ataupun oleh pihak independen yang didukung oleh para Asosiasi Aren. Dengan Litbang yang aktif maka segala sisi Bisnis Aren ini akan bisa terus berkembang dengan sangat efisien dan unggul, kelemahan-kelemahan yang mungkin akan terjadi bisa terdeteksi sedini mungkin. Litbang bisa jadi berfungsi sebagai intelijen bisnis Aren, baik secara teknologi, rekayasa sosio-economic, dll.

7. Kelembagaan dalam Bisnis Aren harus ditata dengan sangat baik membentuk jalinan networking yang mempunyai semangat dan ruh dalam membela kepentingan petani Aren Indonesia. Mulai dari Asosasi Petani Aren, Asosiasi Peneliti Aren Indonesia, Asosiasi Produsen Bibit Aren Indonesia, Asosiasi Produsen Gula Aren, Asosiasi Produsen Bioethanol Aren, Asosiasi Pebisnis Aren, Dewan Revolusi Aren Nasional, dll.

8. Dengan demikian mau-tidak mau Pemerintah harus berpihak kepada kepentingan petani dan para pebisnis Aren Indonesia. Karena bisa jadi para pelaku bisnis Aren nantilah yang bisa memilih dan menentukan mana-mana pejabat yang berpihak dan yang patut memimpin negeri ini. Demikian juga di daerah, para pemimpin daerah yang berpihak petanilah yang akan dipilih, yang tidak berpihak sebaiknya tidak usah dipilih.

Bagaimana menurut Anda ???
Kebun Aren Nunukan

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Wednesday, March 18, 2009

DIVA'S Gula Aren : Dapat Perhatian Dari Presiden RI

Setelah bertemu dengan Gubernur Banten Ibu Atut, saya mengatakan pada suami bahwa next kita akan bertemu dengan Pak SBY. Allah mendengar harapan saya. Pada pameran Agrinex Expo 2009 kemarin akhirnya terjadi juga dialog antara Indrawanto yang memperkenalkan gula aren Banten dengan presiden RI.
Beliau pernah meresmikan pabrik gula aren skala besar di Sulawesi. Begitu tahu bahwa usaha kami skala kecil dan para petaninya mendapat sertifikasi organik dari Swiss, Pak SBY langsung memberikan perhatian penuh. Memberikan pujian and wish us always a good luck.

Kepada Ibu Ani, Pak SBY berkata, " Kita akan coba gula aren ini, Bu.."
Karena yang akan mencoba gula semut aren ini adalah orang yang bertanggung jawab terhadap nasib sekian ratus juta rakyat Indonesia, tentu saja ada prosedur tertentu yang harus dilewati. Pertama-tama, dokternya harus memastikan bahwa gula semut ini memang aman untuk dikonsumsi.

Saya pernah gemetaran sewaktu membuat invoice kami yang pertama. Ketika membuatnya untuk rumah tangga kepresiden RI, saya merasa tercekik karena senangnya :)

Terima kasih kepada PDKM-Dep. Perdagangan yang telah memungkinkan hal ini terjadi.

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Thursday, March 12, 2009

BISNIS GULA AREN ORGANIK


Harian Kontan, 11 Maret 2009
Manisnya Laba dari Bisnis Gula Sehat

JAKARTA. Gula semut alias gula aren memang belum sepopuler gula pasir. Tapi, potensi bisnis gula aren ini tak kalah dengan gula pasir. Meski harganya agak mahal, toh tetap banyak masyarakat melirik gula dari pohon aren ini.

Apalagi mengkonsumsi gula aren merupakan bagian gaya hidup sehat. Sebab, gula semut dipercaya tidak mengandung bahan kimia. Di hotel-hotel berbintang, gula semut disodorkan sebagai salah satu alternatif pemanis minuman kopi atau teh.

Peluang industri gula semut semakin besar setelah beberapa industri makanan dan minuman, khususnya industri roti, mulai meminati jenis pemanis ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri lokal, beberapa perusahaan dari luar negeri juga butuh pasokan dalam jumlah besar.

Sayangnya, pasokan gula semut ini tidak stabil. Gula jenis ini juga sempat diguncang isu formalin. Makanya, yang diserap industri umumnya adalah gula semut organik yang telah bersertifikat pangan organik. Misalnya, gula semut merek Diva's, olahan CV Diva Maju Bersama.

Evi Indrawanto mendirikan usaha ini sejak tiga tahun lalu. Kini, Evi meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan dari usaha ini. Omzet ini masih kecil dibanding pendapatan tahun lalu yang pernah mencapai Rp 100 juta per bulan. "Pasaran memang sedang sepi. Tetapi, permintaan jalan terus," kata ibu berusia 44 tahun ini.

Awalnya, Evi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Perkenalannya dengan bisnis gula semut berasal dari sang suami. "Waktu itu, suami saya memberikan informasi peluang bisnis sebagai pemasok gula semut," ujarnya.Evi yang memang berminat berbisnis lantas menyambar kesempatan yang ditawarkan suaminya itu. Dia mulai merintis usahanya dengan men-cari pasokan gula aren. Dengan gigih, ia mendekati petani gula aren di Garut, Cianjur, dan Banten.

Selain pasar lokal, pasar ekspor juga membutuhkan gula semut.

Dalam waktu singkat, Evi berhasil mengumpulkan 400 petari gula aren setengah jadi yang mau memasok kepadanya. Selanjutnya, Evi mulai mendirikan pabrik pengolahan gula aren dengan modal Rp 200 juta di Serpong, Tangerang.

Kapasitas produksi di pabrik pengolahan gula aren milik Evi mencapai 75 ton per bulan. Namun, karena kondisi krisis, saat ini, produksi Evi hanya 10 ton per bulan. Evi menjual produknya seharga Rp 10.000 per kilogram (kg). Dari harga tersebut, hanya mendapat keuntungan Rp 2.000 per kg. "Saya membeli dari petani seharga Rp 8.000 per kg," tuturnya.

Evi juga menjual gula semut dalam kemasan saset ukuran 225 gram, yang bisa untuk enam kali minum. Harganya Rp 7.500 per saset. Dari harga itu, ia mengambil marjin 30%.

Evi banyak mengandalkan pameran dalam memasarkan produknya. "Sebab, lebih tepat sasaran. Kalau melalui internet, malah tidak banyak terjual," ujar ibu dua anak ini….( ) #Aprilia Ika

Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Saturday, March 7, 2009

Gula Aren Sumber Pendapatan Masyarakat Bungatan

“SEMBAKO” Sebuah kata yang singkat akan tetapi mengandung makna yang sangat penting bahkan sebako sangat dibutuhkan oleh semua orang. Kita sebut saja Gula meski gula bukan makanan pokok yang selalu kita konsumsi setiap hari akan tetapi peranan gula juga sangat penting dalam kehidupan manusia.

Salah satu gula yang mempunyai ciri – ciri yang khas adalah Gula Arenselain harganya terjangkau gula aren juga mempunyai aroma dan rasa yang berbeda dengan gula lainnya.

Gula Aren terbuat dari buah dari pohon yang biasa disebut dengan “Pohon Aren“ meski bentuk dari pohon tersebut dibilang aneh akan tetapi memiliki kelebihan dan manfaat yang terkandung didalamnya.

Kita sebut saja Bapak Lin “ salah satu pengusaha yang berasal dari Dusun Hulu Desa Patemon Kecamatan Bungatan” Bapak yang sekaligus menjadi Guru Ngaji ( Ustad ) di Dusun Hulu tersebut telah mengolah buah dari pohon aren yang tadi dibilang aneh menjadi bahan konsumsi yang disebut dengan “GULA AREN”.

Usaha yang ditekuni oleh Nenek Moyang dan menjadi usaha turun – temurun ini tidak memerlukan dana yang cukup besar dan gula aren milik Bapak Lin ini banyak diminati oleh semua lapisan masyarakat Desa Patemon dan sekitarnya.

Gula Aren yang dikelola / di buat oleh Bapak Lin ini kini menjadi usaha rumah tangga (Home Industry) secara turun – temurun sampai sekarang dan juga usahanya sekarang juga ditekuni oleh masyarakat Dusun Hulu secara umum bahkan Bapak Lin telah memproduksi Gula Buatannya ke daerah Jember dan Besuki. (Opr. Tc.)
Salam,
-- Evi Indrawanto
DIVA'S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blog Archive