Harian Kontan, 11 Maret 2009
Manisnya Laba dari Bisnis Gula Sehat

JAKARTA. Gula semut alias gula aren memang belum sepopuler gula pasir. Tapi, potensi bisnis gula aren ini tak kalah dengan gula pasir. Meski harganya agak mahal, toh tetap banyak masyarakat melirik gula dari pohon aren ini.

Apalagi mengkonsumsi gula aren merupakan bagian gaya hidup sehat. Sebab, gula semut dipercaya tidak mengandung bahan kimia. Di hotel-hotel berbintang, gula semut disodorkan sebagai salah satu alternatif pemanis minuman kopi atau teh.

Peluang industri gula semut semakin besar setelah beberapa industri makanan dan minuman, khususnya industri roti, mulai meminati jenis pemanis ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri lokal, beberapa perusahaan dari luar negeri juga butuh pasokan dalam jumlah besar.

Sayangnya, pasokan gula semut ini tidak stabil. Gula jenis ini juga sempat diguncang isu formalin. Makanya, yang diserap industri umumnya adalah gula semut organik yang telah bersertifikat pangan organik. Misalnya, gula semut merek Diva’s, olahan CV Diva Maju Bersama.

Evi Indrawanto mendirikan usaha ini sejak tiga tahun lalu. Kini, Evi meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan dari usaha ini. Omzet ini masih kecil dibanding pendapatan tahun lalu yang pernah mencapai Rp 100 juta per bulan. “Pasaran memang sedang sepi. Tetapi, permintaan jalan terus,” kata ibu berusia 44 tahun ini.

Awalnya, Evi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Perkenalannya dengan bisnis gula semut berasal dari sang suami. “Waktu itu, suami saya memberikan informasi peluang bisnis sebagai pemasok gula semut,” ujarnya.Evi yang memang berminat berbisnis lantas menyambar kesempatan yang ditawarkan suaminya itu. Dia mulai merintis usahanya dengan men-cari pasokan gula aren. Dengan gigih, ia mendekati petani gula aren di Garut, Cianjur, dan Banten.

Selain pasar lokal, pasar ekspor juga membutuhkan gula semut.

Dalam waktu singkat, Evi berhasil mengumpulkan 400 petari gula aren setengah jadi yang mau memasok kepadanya. Selanjutnya, Evi mulai mendirikan pabrik pengolahan gula aren dengan modal Rp 200 juta di Serpong, Tangerang.

Kapasitas produksi di pabrik pengolahan gula aren milik Evi mencapai 75 ton per bulan. Namun, karena kondisi krisis, saat ini, produksi Evi hanya 10 ton per bulan. Evi menjual produknya seharga Rp 10.000 per kilogram (kg). Dari harga tersebut, hanya mendapat keuntungan Rp 2.000 per kg. “Saya membeli dari petani seharga Rp 8.000 per kg,” tuturnya.

Evi juga menjual gula semut dalam kemasan saset ukuran 225 gram, yang bisa untuk enam kali minum. Harganya Rp 7.500 per saset. Dari harga itu, ia mengambil marjin 30%.

Evi banyak mengandalkan pameran dalam memasarkan produknya. “Sebab, lebih tepat sasaran. Kalau melalui internet, malah tidak banyak terjual,” ujar ibu dua anak ini….( ) #Aprilia Ika

Salam,
— Evi Indrawanto
DIVA’S Palm Sugar
Organic Sugar for All Purpose Sweeteners