Budidaya tanaman aren sudah menggeliat. Fakta ini terlihat dari berbagai diskusi di forum Komunitas Aren Indonesia di Facebook. Di sisi lain aren non-budidaya juga berlimpah. Adalah fakta bahwa tanaman aren non-budidaya belum maksimal dukungannya dalam menyangga ekonomi daerah. Sebut saja Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Sumatera Barat. Di tempat ini tanaman multi fungsi ini berlimpah namun produksinya belum dimanfaatkan maksimal. Tak heran lahir pertanyaan dari aktivis aren, mengapa tanaman di daerahnya belum dijadikan sebagai produk unggulan daerah?

Aren Non-Budidaya

Begitu pun beberapa pertanyaan pernah mampir kepada ARENGA. Intinya adalah bagaimana cara membuat gula semut agar aren di daerah mereka bisa dijadikan  produk unggulan daerah. Melalui suatu diskusi, Pak Dian Kusumanto menulis beberapa syarat sebelum agar Aren dipromosikan sebagai produk unggulan daerah.

Ini kutipan tulisan beliau :

Salah satu sudut pandang dalam penentuan komoditas unggulan adalah menggunakan potensi dasar. Dan bisa dikatakan unggul bila memenuhi aspek ini :

  1.  Aspek pasar dan pemasaran untuk memastikan bahwa komoditas yang dihasilkan dapat dipasarkan dengan baik.
  2. Aspek teknik dan produksi untuk menentukan kapasitas produksi daerah sekaligus pengendalian kualitas hasil produksi.
  3. Aspek sosial ekonomi dan lingkungan untuk menentukan daya dukung sumber daya ekonomi daerah serta kaitannya dengan lingkungan.
  4. Aspek manajemen dan legalitas untuk menjamin kelancaran proses produksi komoditas unggula.
  5. Aspek keuangan untuk memastikan dukungan dana yang cukup bagi pelaksanaan proses produksi. 

Namun kriteria yang banyak digunakan oleh pemerintah daerah terhadap penentuan komoditas unggulan adalah produk khas daerah, memiliki jumlah unit usaha relatif banyak dibanding komoditas lain, banyak menyerap tenaga kerja dan memenuhi kepentingan beberapa dinas daerah terkait.
 

Sementara penetapan kriteria komoditas unggulan yang dikembangkan didasarkan atas studi pustaka dan data pengamatan di lapangan, adalah :

  • (a) Luasan kesesuaian lahan atau agroekologi.
  • (b) Tingkat pendapatan per hektar.
  • (c) Produksi atau produktivitas.
  • (d) Kemampuan menyerap tenaga kerja.
  • (e) Dukungan kelembagaan.
  • (e) dukungan teknologi.
  • (f) Dukungan modal.
  • (g) Dukungan pasar.

Penentuan komoditas unggulan pada suatu daerah merupakan langkah awal menuju pembangunan ekonomi yang berpijak pada konsep efisiensi untuk meraih keunggulan konparatif dan kompetitif dalam menghadapi globalisasi perdagangan. Langkah menuju efisiensi dapat ditempuh dengan menggunakan komoditas yang mempunyai keunggulan komparatif baik ditinjau dari sisi penawaran maupun permintam.
 
Dari sisi penawaran Komoditas unggulan dicirikan oleh superioritas dalam pertumbuhm pada kondisi biofisik, teknologi, dan kondisi sosiaf ekonomi petani yang dapat dijadikan andalan untuk meningkatkan pendapatan. Dari sisi permintaan, komoditas unggulan dicirikan oleh kuatnya permintaan di pasar baik pasar domestik maupun internasional. Berbagai pendekatan dan alat analisis telah banyak digunakan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan, menggunakan beberapa kriteria teknis dan non teknis dalam kerangka memenuhi aspek penawaran dan permintaan.

Membuat gula semut

Jadi memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh para penggiat sebelum aren bisa dinyatakan sebagai produk unggulan daerah. Namun tak mengapa mari kita bekerja sedikit demi sedikit. Langkah demi langkah yang kita bisa. Jangan melulu bertumpu kepada pemerintah. Insya Allah suatu saat aren dijadikan produk unggulan daerah, menopang ekonomi bangsa dan menjadikan indonesia jadi swasembada gula. Amin

+Evi Saja