Perajin Arenga gula aren sedang mencacah ranting kayu nangka untuk pengawet nira alami

Gulaarenorganik.comPengawet Makanan Alami dan Kearifan LokalPenemuan umat manusia terhadap budidaya tanaman dan hewan menghasilkan makanan berlimpah. Surplus itu harus disimpan menjelang panen berikutnya atau selama perjalanan menuju pasar. Namun dalam rentang waktu tertentu semua makanan segar akan rusak. Membusuk akibat proses oksidasi ataupun karena benturan. Karena itu lahir lah kebutuhan mencari cara, bahan, dan teknik pemrosesan agar makanan tersebut bertahan dalam jangka waktu tertentu. Tehnik pengawetan membuat makanan tersebut tetap layak dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, bisa dipindahkan agar dapat dikonsumsi dimana saja. 

Pengawet Makanan dan Kearifan Lokal

Sebelum penemuan tehnik pengawetan makanan moderen seperti pendinginan, pembekuan, iradiasi, dan pemakaian zat kimi sintetis, nenek moyang kita sudah menemukan pengawet makanan alami. Teknologi yang lahir dari kebiasaan hidup sehari-hari dan sudah dipraktekan turun-temurun. Seperti yang dilakukan pada pengawetan makanan secara fisik sebagau berikut.
  • Pemanasan. Teknik ini dilakukan baik untuk  bahan makanan padat maupun cair. Tapi tehnik ini dianggap tidak efektif untuk bahan yang mengandung gugus fungsional seperti vitamin dan protein.
  • Pengasapan. Perpaduan teknik pengasinan dan pengeringan. Pengawetan bertahan relatif lebih lama yang bisa diterapkan pada daging, sayuran, dan buah.
  • Pembuatan acar. Dilakukan pada sayur dan buah.
  • Pengentalan dapat dilakukan untuk mengawetkan bahan cair seperti pada nira aren.
  • Pengeringan berguna mencegah pembusukan akibat mikroorganisme. Dilakukan untuk bahan padat yang mengandung protein dan karbohidrat
  • Pembuatan tepung. Teknik ini sangat banyak diterapkan pada bahan karbohidrat. Salah satu contohnya adalah merubah gula aren cetak jadi bubuk. Sumber : Wiki
Pengawetan makanan alami yang berangkat dari kearifan lokal ini cenderung dianggap lebih aman  bagi kesehatan manusia ketimbang menambahkan zat kimia sintetis atau melakukan iradiasi.Namun pergeseran cara berpikir, degradasi moral yang hanya berangkat dari mencari keuntungan sebesar-besarnya, pengawetan makanan alami dianggap tidak lagi efektif.   Salah satu contohnya adalah kelahiran ikan asin yang tidak lagi asin. Ikan awetan tersebut tetap kering tapi rasanya tidak lagi asin seperti yang sudah-sudah.Entah bahan apa yang telah ditambahkan sampai-sampai ikan kering itu tetap cantik dalam waktu lama.
Pada era moderen ini hidup dengan makanan berpengawet hampir tak terhindarkan.  Genjotan pertumbuhan ekonomi yang salah satu sumbernya berasal dari bahan makanan yang menggunakan pengawet. Tapi kembali kepada kita sebagai konsumen. Mempertaruhkan kesehatan atau membekali diri dengan pengetahuan seperti bisa memilah mana makanan berpengawet alami, pengewat kimia namun dalam taraf aman atau menyerahkan semua kepada pasar?
Mari kita berpikir dengan bijak. Atau berusaha menghidupkan kembali kearifan lokal?
Batang Kawao dalam gengaman sang penyadap aren

+ARENGA Indonesia