Di Indonesia terdapat banyak sekali jenis pohon Palma atau Palem yang digunakan sebagai sumber makanan. Selain aren, kelapa, dan siwalan, ada lagi yang dikenal sebagai Tanaman Sagu (Metroxylon sp.) Berbeda dengan aren yang diambil niranya, yang dimanfaatkan dari pohon tanaman keras ini adalah pati atau tepung. Fungsinya sama dengan jenis tepung lain yakni sebagai sumber karbohidrat pangan. Diambil dari empulur batang untuk menghasilkan produk aci atau pati, tepung sagu, atau biasa disebut sagu saja. Jadi penyebutan sagu oleh masyarakat bisa berupa pohonnya, produk aci atau tepungnya. Dan tepung sagu di sini berbeda dengan Pati Aren yang terkadang disebut juga Sagu Aren.
mengenal tanaman sagu
Mengolah tanaman sagu untuk diambil patinya. Foto hkti.org

Sebelum membahas tentang pati sagu mari kenali tumbuhannya lebih dulu.

Sagu dikenal juga sebagai Rumbia yang daunnya banyak dimanfaatkan untuk atap rumah tradisional. Kebanyakan sagu adalah tanaman liar. Banyak tumbuh di kawasan Indonesia Timur. Hidup bergerombol di dataran paya-paya atau rawa-rawa,  di area pasang surut, dataran banjir, dan lembah di pinggir sungai. Untuk beberapa tempat sekarang sagu pun sudah mulai dibudidayakan terutama di tanah mineral atau tanah gambut.

Sumber makanan kita terkait erat dengan lingkungan. Tanaman sagu banyak tumbuh di kawasan Indonesia Timur.Maka tak heran jika masyarakat di kawasan ini seperti Papua, Maluku Utara, Maluku dan sebagian Sulawesi menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Tepung sagu mereka ubah kedalam bentuk makanan tradisional yang terkenal. Sebut saja papeda (semacam bubur), kapurung, sagu bakar dan lain-lain. Sementara di Riau sagu ditemukan dalam bentuk sagu gobak, sagu rendang, sagu embel, laksa, kue bangkit dan sagu obor.

Sagu Sumber Makanan Bergizi

Rakyat Indonesia sebagian besar mengenal beras sebagai sumber makanan utama. Fungsi  beras adalah sumber karbohidrat. Padahal banyak sumber karbohidrat selain beras yang bisa tumbuh di Indonesia. Dan tentu saja memiliki nilai gizi kurang lebih sama dengan beras. Bahkan tepung sagu lebih unggul dibandingkan dengan tepung beras atau tepung terigu. Selain kalori dan karbohidrat, tepung sagu mengandung protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C. Dengan kandungan gizi tersebut tepung sagu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Apakah untuk pangan, pakan ternak sampai bahan baku multi industri. Dan tepung sagu biasa digunakan dalam  industri krupuk dan kue kering. Hanya saja memang kurang cocok untuk kue basah.

Produk Olahan Sagu

Begitu lah. Tepung sagu bisa diposisikan sebagai makanan pokok mau pun makanan sela atau camilan.

1. Mie Dari Tepung Sagu

Pati yang digunakan untuk membuat mie dipilih dari kualitas terbaik. Untuk skala industri Biasanya Pati sagu untuk dibuat mie ini melalui proses pemutihan atau bleaching dengan menambahkan kaporit sebanyak 0,25% dari bobot sagu awal. Kemudian pati sagu disangrai. Setelah itu tepung di oven sampai 110 derajat selama 16 jam baru didinginkan.

2. Kerupuk Ikan

Biasanya kerupik ikan terbuat dari tepung tapioka. Namun sekarang kerupuk ikan ada juga yang terbuat dari daging ikan dan tepung sagu dicampur dengan tepung tapioka dan garam.

3. Sagu Mutiara

Pernah mendengar pacar Cina? Makanan ini yang diolah seperti bubur dan diberi santan Sering kita temui saat bulan Ramadhan. Nah Tepung sagu juga diolah sebagai sagu mutiara atau pacar Cina. Di Indonesia sagu mutiara lazim kita sebut jenang, mirip dengan mutiara dari tepung tapioka dengan diameter sekitar 22 mm. Warna putih akan didapatkan bila pengelolahannya dilakukan dengan baik. Tapi warna kecoklatan pun masih bisa digunakan. Kadang agar penampilan lebih menarik sagu mutiara diberi pewarna merah muda, kuning, atau hijau.

4. Puding dan Jelly

Bentuk Jelly yang paling terkenal dari tepung sagu adalah cendol. Dan ia bisa juga dibuat puding. Tapi sagu harus difortifikasi terlebih dahulu. Contoh sagu fortifikasi adalah makanan cara masak yang berasal dari Papua Nugini. Untuk menaikkan kadar proteinnya sagu difortifikasi ditambahkan dengan pasta kacang hijau. Pati sagu yang difortifikasi berpotensial melawan malnutrisi bagi anak-anak.

Demikianlah bahwa sumber pangan kita tidak melulu harus tergantung kepada beras. Pohon sagu dapat memenuhi kebutuhan pangan lokal, memperoleh sumber pendapatan ekonomi, dan membuka lapangan kerja. Mari kita manfaatkan Pati sagu sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama.