Arenga Indonesia Stories

Rambusa Pengawet Nira Aren

Rambusa pengawet nira alami

Di dalam nira aren terdapat kandungan gula dan nutrisi. Proses fermentasi berlangsung sangat cepat. Itu lah mengapa para perajin gula aren membutuhkan pengawet untuk mencegah agar nira tidak berubah jadi cuka. Banyak jenis pengawet yang digunakan. Dari zat kimia sintetis sampai alami. Karena di sini selalu membahas gula aren organik, kali ini tentang rambusa yang digunakan sebagai salah satu pengawet nira aren alami.

Dikenalkan Perajin Gula Aren Sigi Sulawesi Tengah

Pelatihan gula semut aren di desa Tuva Sigi Sulawesi Tengah

Pagi itu kami akan memulai pelatihan membuat gula semut dari nira aren. Sehari sebelumnya banyak berdiskusi dengan peserta. Salah satunya pengawet nira yang mereka gunakan sehari-hari. Selain menyebutkan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikenal seperti buah dan kulit manggis, Pak Amin datang dengan Bunga Harsia. Yang setelah Mbak Min konsultasi dengan Mbah Google tak lain dari Rambusa atau Passiflora foetida. 

Program yang digagas oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit VIII Kulawi berlangsung di Desa Tuwa Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah. Kegiatan ini untuk  membantu masyarakat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Mereka termasuk masyarakat yang terkena dampak gempa Palu setahun sebelumnya.

Rambusa atau Passiflora foetida, salah satu jenis tumbuhan menjalar. Diambil Pak Amin yang sudah mewarisi kepandaian mengolah gula aren dari ayahnya, dari belakang rumahnya. Sekilas tampak seperti gulma biasa, melilit pagar belakang rumah yang terbuat dari bambu.

Kalau membaca dari Wiki Rambusa berasal dari Amerika Selatan, tumbuh bercampur dengan herba dan semak lainnya di kebun, tegalan, sawah yang mengering, di pasir pantai, tepi jalan, tepi hutan dan bagian-bagian hutan yang terbuka disinari terik matahari.

Rambusa Pengawet Nira Alami Sebagai Kearifan Lokal

Pembalut buni rambusa untuk mengawetkan nira

Semesta selalu seimbang. Ketika ia membuat makanan cepat membusuk ia juga menciptakan penangkal. Nenek moyang belajar kearifan tersebut dari alam sekitar. Ketika menyadari bahwa nira aren yang sudah asam tidak bisa dibuat gula aren mereka mencari dan bereksperimen dengan berbagai tumbuhan yang hidup tak jauh dari lingkungan mereka.

Maka bertemu lah akar kawao, kayu secang, batang dan buah manggis, pohon nangka. Sementara di Desa Tuva mereka melihat manfaat lain dari Bunga Harsia. Selain menunggu buahnya matang yang enak dimakan, Rambusa dimanfaatkan pucuk daun mudanya sebagai sayur. Dan terakhir adalah buah buni yang berbiji banyak itu. Jaring-jaring daun pembalut bisa dimanfaatkan mengawetkan nira aren.

Cara Memanfaatkan Rambusa Sebagai Pengawet Nira Aren

Jaring pembalut buah rambusa untuk mengawetkan nira

Menurut Pak Amin yang dimanfaatkan adalah jaring daun pembalut dari buah yang setengah masak. Kalau buah masih muda tak bisa dimakan karena masih beracun. Tapi jaring pembalut buni rambusa muda bisa digunakan sebagai detergen.

Yes detergen alami!

Untuk mengawetkan satu tabung nira berisi sekitar 5 liter, menurut Pak Amin ambil sekitar 10 buah rambusa yang setengah matang atau matang. Buninya bisa dimakan sebagai tambahan vitamin C keluarga karena rasanya manis keasaman. Mirip buah markisa. Masukan ke dalam tabung penampung nira.

Saat hendak membuat gula nira harap disaring terlebih dahulu agar gula yang dihasilkan bersih dan bebas dari segala kotoran yang tidak perlu.

Kontak Arenga Indonesia. WA 0819 3241 8190

Exit mobile version